Mimpi Itu Gratis

Judul Buku   : Mimpi Itu Gratis

Pengarang    : AyuSha

Penerbit         : Bhuana Ilmu Populer

Tebal Buku   : 130 halaman

Tahun Terbit : 2016

Buku ini menceritakan kisah anak – anak yang berjuang menggapai mimpi dengan segala keterbasan. Setiap orang akan merasa bersyukur pernah memiliki sekolah yang layak, guru yang sangat peduli, buku bergambar yang menjelaskan banyak arti, dan kebebasan dalam menentukan cita-cita. Buku ini juga memberi pemahaman bahwa pencapaian yang tertinggi bukan pada nilai akademik, melainkan pada hal – hal lain yang lebih berharga.

Dimulai dari guru yang diberikan mandat untuk mengajar di Papua, tempat yang tak terbayangkan dan singgah dalam benak. Hutan sepanjang jalan seolah mengucapkan selamat datang. Para guru menempati daerah daerah pedalaman hanya seorang diri dengan jarak saling berjauhan. SD Alang Alang adalah tempat dimana Ibu Ayu diberikan tugas mengajarnya. Sekolah yang bisa dibilang sederhana, hanya terdapat 2 bangunan 1 toilet, siswa hanya 5 – 10 orang dan satu guru ditambah dengan seorang kepala sekolah. Ruang kelas berdinding kayu, diisi beberapa kursi yang tidak teratur, papan tulis kapur, dan gambar Presiden yang disekolah ini.

Dengan adanya pendidikan, mereka akan menyadari bahwa Papua adalah bagian dari Indonesia. Siapapun dari berbagai penjuru Indonesia seharusnya menyempatkan diri untuk mempir ke tempat ini. Cobalah membangkitkan nasionalisme di tanah merah ini, tanah subur, tanah nan makmur. Mereka Cuma perlu pembuktian tentang makna kemerdekaan. Dengan pendidikan, mereka akan menyadari bahwa Papua adalah bagian dari Indonesia. Tidak mudah bagi kita jika harus memilih sekolah atau adat, kita perlu berjuang untuk membuktikan bahwa pendidikan sangatlah penting.

Seperti pada salah satu judul pada buku ini, “Bermimpi Bukan Tentang Siapa yang Berani, Melainkan Siapa yang Berjuang”. Perbedaan manusia dari hewan, pohon, atau yang lainnya adalah karena manusia berani bermimpi. Cita – cita atau mimpi bukan hanya milik anak – anak, melainkan semua orang. Bukan hanya bermimpi, kita juga harus ingat bagaimana kita mewujudkannya yang tentunya setiap orang memiliki mimpi yang berbeda – beda.

Pada buku ini juga mengingatkan kita, terkadang di tengah keterbatasan yang dirasakan, kita bisa merasakan hal yang sempurna, terutama untuk selallu mensyukuri segala yang sebelumnya kita anggap sebagai sebuah kewajaran yang memang harus tersedia. Seperti yang diceritakan pada buku ini, nasi putih yang dengan mudah dihidangkan untuk kita, kita tak pernah tahu, di sana, ada banyak orang yang menganggap makan nasi seperti mendapat sebongkah berlian.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s